Video Susno Duadji

Susno Duadji angkat bicara melalui youtube dari tempat persembunyian 29/04/2013

Video Susno Duadji

Batal dieksekusi, susno melenggang (27/04/2013)

Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Tubagus Anis Angkawijaya, angkat bicara : “pihaknya tidak melakukan upaya mengahalangi eksekusi kejaksaan untuk menyeret Susno ke penjara. Pihak kejaksaan pulang karena sudah larut malam.”

Video Susno Duadji

Eksekusi susno dijadual ulang (24 April 2013)


Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kejagung), Setia Untung Arimuladi, angkat bicara "Tim jaksa akan jadwalkan ulang pelaksanaan eksekusi atas terpidana Susno Duadji. Tim jaksa meninggalkan Polda Jabar kurang lebih pukul 00.15 WIB." 

Video Susno Duadji


Polda Jabar Menerima Susno Duadji Sesuai UU  (24 April 2013)


Kabid Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompul angkat bicara : “kedatangan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Purnawirawan Susno Duadji ke Polda Jabar adalah pilihan terpidana Susno dan kejaksaan.Polda Jabar menerima Susno karena sesuai Undang - Undang No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 13, di mana tugas Polri adalah memberi perlindungan kepada masyarakat."
 
Video Susno Duadji

Testimoni Susno, 10 April 2013
 
Video Susno Duadji

Pengacara Susno dan Jaksa Nyaris Baku Hantam (25 Maret  2013)

Video Susno Duadji

Susno ditahan di mabes polri (10 Mei 2010)

M Assegaf, pengacara Susno di Mabes Polri angkat bicara : "Setelah meneliti dan menandatangani Berita Acara Pemeriksaan sebagai saksi, kemudian disodori surat perintah untuk dilakukan penahanan terhadap Jenderal Susno."

Video Susno Duadji

Video penangkapan susno di bandara suta (12/4/2010)

Selamat Jalan UJe


Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Telah berpulang ke Rahmatullah Ustadz kondang Jefry Al Buchori yang biasa disapa dengan sebutan UJe. UJe meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah, pukul 02.00 WIB, setelah motor yang ditungganginya mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Gedung Raya Hijau, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Bangsa ini telah kehilangan salah satu Ustadz terbaiknya dan yang banyak disukai masyarakat karena pembawaannya yang tenang, mengayomi, terlebih dengan gaya penyampaian ceramahnya yang santai dan friendly, membuat Ustadz satu ini tak hanya dekat dengan para alim ulama, namun juga seluruh kalangan mulai dari wartawan, politikus, artis, hingga para pejabat.

Untuk mengenangnya, berikut ini adalah sepenggal perjalanan hidup Uje yang penuh dengan liku-liku. Semoga, perjalanan hidupnya yang dipenuhi dengan gejolak yang sangat dahsyat ini dapat kita petik pelajaran daripadanya.

UJe terlahir “Jeffry Al Buchori Modal,” pada 12 April 1973 di Jakarta.  Dan merupakan anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandung laki-laki, dan yang bungsu perempuan.  Nama Ayah kandungnya adalah M. Ismail Modal, berasal dari Ambon. Ayahnya UJe pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari ayahnya iniliah darah seni mengalir di tubuh UJe.  Sedangkan ibunya beranama Tatu Mulyana berasal dari Banten.

UJe pada dasarnya memang berada di lingkungan keluarga yang taat agama,  pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga disukainya di sekolah  adalah kesenian. Lulus SD, UJe beserta kedua kakaknya dimasukkan ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang.

Di pesantren, UJe hanya bertahan empat tahun. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, oleh ayahnya, UJe diasukkan ke sekolah aliyah (setingkat SMA).  Masa SMA merupakan masa yang suram buat UJe. Dari SMA satu pindah ke SMA lainnya dan saat menginjak usia 16 tahun, UJe mulai kenal dunia malam. Tahun 1990 UJe berhasil lulus SMA dan pada tahun itu juga UJe mulai terjun ke dunia sinetron.

Namun, ayahnya  mati-matian menentang UJe terjun ke dunia sinetron. Ditentang ayahnya tak membuat langkah UJe surut.  Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuat UJe semakin yakin, bahwa inilah jalan hidup yang dia cari.

Sebagai bentuk perlawanan UJe kepada ayahnya, UJ tak pernah lagi pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah dari rumah teman ke teman yang lainnya. Rambutnya  sengaja dipanjangkan. Pada saat bersamaan, kariernya di dunia seni peran terus melaju. Dan UJ-pun Semakin yakin bahwa  pilihan jalan hidupnya memang tidak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991.

Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri UJe. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam. Dunia malam terus digelutinya. Kalau ke diskotek, dia  tak lupa mengkonsumsi narkoba.

Tahun 1992, ayahnya meninggal karena sakit. Rasa sedih karena kepergian ayahnya dan rasa menyesal karena selama ini tidak mau mendengar nasehat ayahnya  tidak berlangsung lama. UJe kembali tenggelam dalam dunia malam dan narkoba.



Ada suatu perbuatan dosa yang tidak bisa diungkap oleh UJe yang berujung pada rasa ketakutan yang luar biasa. Pada saat yang bersamaan, kecanduannya pada narkoba telah membuat dia termasuk dalam daftar hitam di dunia sinetron.

Setelah berkali-kali jatuh-bangun, akhirnya Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih yang akhirnya menjadi isteri ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya menjadi ustadz cukup berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah.  Sepulang umrah, dia jalani hidupnya dengan lurus,

Pada tahun 2000, perubahan besar terjadi dalam hidupnya. Kakak keduanya, Fathul Hayat memintanya  untuk menggantikan dia memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Dia mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu diserahkan kepada isternya. Dikatakan kepada isterinya  “ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padamu.”   Merekapun berpelukan sambil bertangisan.

Menjadi ustaz adalah jalan hidup yang kemudian dia pilih. Dia mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuangannya  tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahnya mungkin karena dia mantan pemakai narkoba. Namun semakin lama ceramahnya makin bisa diterima banyak orang. Bahkan dia menerima banyak undangan untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve. (Kisah selengkapnya tentang biografi Uje dapat anda baca di KampungBenar)

Atas meninggalnya Uje, politisi dan sejumlah artis angkat bicara.

Politisi Wanda Hamidah, Anggota DPRD DKI komisi E angkat bicara : "Firasat saya langsung tidak enak, BBM (Blackberry Messenger) Uje yang menggunakan kata 'mohon maaf bbm ini sudah tidak dipakai lagi, mohon maaf lahir batin', seolah-olah seperti dia mau meninggalkan kita semua. Dan ternyata firasat saya benar."

Ahmad Dani, melalui akun twitter-nya @AHMADDHANIPRAST, angkat bicara : “Happy&EnjoyNextLife Mr UJ…Ustadz paling ganteng se ASEAN…semoga dlm waktu dekat kita punya Ustadz lagi se keren Antum…Amien.”

Artis Chelsea Olivia melaui akun twitternya @chelseaolivia92  angkat bicara : “RIP Ustad Jeffry .. Walaupun berbeda keyakinan saya paling suka dengan ustad ini :( “

Artis Bunga Citra Lestari melalui akun resminya @bclsinclair angkat bicara : “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. Selamat jalan ustad Jefry..”

Sedangkan artis Luna maya lewat akun twitternya @lunamaya26, angkat bicara :“R.i.P ustad Jeffrey semoga Amal ibadah beliau di terima di sisi-NYA. Amin.”

Selamat jalan Uje, semoga Allah swt menempatkanmu ditempat yang terpuji sesuai dengan janji-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dan semoga Allah swt juga menganugerahi rachmat dan kesabaran kepada keluarga yang telah engkau tinggalkan, amiiin…

UANG HARAM TAHUNAN


Setelah kisruh dan karut marut pelaksanaan ujian nasional, untuk ke depan, masih perlukah dilaksanakan ujian nasional? Banyak orang yang angkat bicara terkait dengan karut marut pelaksanaan ujian nasional kali ini. Ada yang angkat bicara terkait dengan buruknya kinerja Kemendiknas dan ada juga yang angkat bicara terkait dengan adanya indikasi korupsi di Kemendiknas.
Menurut laporan tahunan terbaru (2012) dari Center on Education Policy—sebuah lembaga nirlaba yang didirikan di George Washington University, yang meneliti ujian kelulusan di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat sejak tahun 2002—menyimpulkan bahwa hingga saat ini keterkaitan antara ujian kelulusan dan peningkatan prestasi belajar siswa masih belum terbukti. Laporan tersebut juga merujuk pada beberapa penelitian lain, misalnya yang dilakukan Grodsky dkk (2009), Reardon dkk (2009), dan Holme dkk (2010), yang belum menemukan keterkaitan antara pelaksanaan ujian kelulusan dan peningkatan prestasi belajar siswa. (Baca : Kompas.com)
Sementara itu, penelitian-penelitian lain juga telah mendokumentasikan dampak negatif ujian kelulusan. Di antaranya: (1) kesenjangan prestasi akademis berdasarkan status sosial ekonomi keluarga; (2) meningkatnya risiko putus sekolah bagi siswa tak mampu dan siswa dari kelompok minoritas; (3) penyempitan kurikulum, yaitu terfokusnya pembelajaran pada mata pelajaran yang diujikan sehingga yang tak diujikan terabaikan; (4) proses belajar yang berupaya menggali aspek kreativitas dan berpusat pada siswa cenderung terpinggirkan karena lebih memfokuskan pada latihan-latihan soal; (5) tekanan berlebihan yang dirasakan siswa; tekanan berlebihan yang dirasakan guru; dan (6) berbagai modus kecurangan.
Tidakkah lebih bermanfaat jika biaya penyelenggaraan UN yang begitu besar, yang tahun ini mencapai Rp 600 miliar, dialihkan untuk pelatihan guru, perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah, perbaikan sekolah yang rusak, dan pembenahan sarana dan prasarana pendidikan lainnya? Belum lagi biaya-biaya terkait UN yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan orangtua murid.
Perlu diingat pula, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengabulkan gugatan 58 warga negara atas kebijakan UN (21/5/2007). Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jakarta dengan ditolaknya upaya banding pemerintah (6/12/2007). Putusan itu kembali dikukuhkan Mahkamah Agung dengan ditolaknya kasasi pemerintah (14/9/2009). Sementara itu, tiga kali panggilan PN Jakarta Pusat terkait eksekusi putusan tidak dipenuhi oleh pemerintah.
Upaya-upaya yang dilakukan Tim Advokasi Korban UN, termasuk dengan menemui, antara lain, Komisi X DPR, Komnas HAM, dan Dewan Pertimbangan Presiden belum membuahkan hasil. UN masih tetap berlangsung tanpa ada penilaian dari pengadilan apakah pemerintah telah memenuhi syarat-syarat yang mesti dipenuhi sebelum melaksanakan kebijakan UN lebih lanjut
Sumber : Kompas.com

Terkait dengan karut marut ini, pengamat pendidikan, Herlina Siti Rahmah angkat bicara : “Pemerintah diminta menerapkan kebijakan 100 persen lulus kepada seluruh peserta ujian nasional (UN) 2013 akibat karut-marutnya pelaksanaan UN. Kekacauan dalam pelaksanaan UN tidak boleh mengorbankan masa depan pelajar. Tak sepantasnya anak-anak menjadi korban dari tidak becusnya kerja pemerintah dalam mengelola UN.” (Baca : Kompas.com)
Sedangkan Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Ace Sadzili, angkat bicara : “UN bukan merupakan satu-satunya alat untuk mengukur kualitas pendidikan di Indonesia sehingga memang sebaiknya tidak lagi dilaksanakan.” (Baca : Kompas.com)
Terkait dengan dugaan korupsinya, ICW-pun angkat bicara : "Sudah ada indikasi korupsinya, tim kita sedang turun dan memantau. Indikasi korupsi dalam pengadaan soal UN itu sangat besar.” (Baca : MetroTvNews.com)
Indikasi adanya korupsi tersebut juga telah membuat Wakil Ketua KPK, Zulkarnaen, Angkat Bicara : “Masalah ini sedang kami teliti. Kalau ada indikasi korupsi, pasti kami tindaklanjuti,’’  (Baca : RMOL)
Lain halnya dengan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi yang angkat bicara sehubungan dengan karut marutnya pendistribusian naskah UN : "Lebih baik kalau (pencetakan) itu didelegasikan ke daerah, jadi distribusinya lebih mudah,  Mengenai teknisnya, Kemdikbud dapat memberikan bahan naskah (soft copy) ke tiap-tiap provinsi. Ia percaya cara seperti itu akan lebih efektif ketimbang pemusatan lokasi percetakan yang seluruhnya berada di Pulau Jawa.” (Baca : Kompas.com)
Wah, kalau sampai percetakan naskah UN didelegasikan ke daerah, UANG HARAM TAHUNAN mereka jadi tidak optimal dong pak? Apalagi sampai UN ditiadakan. Yang pasti, Kemendiknas akan tetap ngotot mempertahankan adanya UN agar UANG HARAM TAHUNAN mereka tidak hilang dan akan menjadi proyek yang berkesinambungan.

MEREKA TAKUT SENJATA MAKAN TUAN


Tidak akan pernah ada rasa jera bagi perkara kasus korupsi. Hukuman yang sangat ringan, membuat tindak kejahatan korupsi semakin merajalela. Bahkan untuk urusan keagamaan dan kemanusiaan saja, bukan halangan bagi penjahat ini untuk melakukan aksi amoralnya.

Dari mulai pengadaan Al-Quran sampai ke penyediaan lahan untuk kuburan pun disikat juga. Hukuman yang dijatuhi paling berkisar antara 5 sampai 15 tahun. Hukuman tersebut sangat ringan, apalagi dalam menjalankan hukumannya, terpidana akan mendapatkan remisi berupa pengurangan hukuman pada hari keagamaan dan hari kemerdekaan. Hukuman 15 tahun paling hanya dijalani 2/3-nya saja.
Dalam kaitannya dengan korupsi pengadaan Al-Quran sampai perizinan pemakaman, Anggota Komisi VIII DPR RI, Nasir Djamil "Angkat Bicara" : "Ini fenomena sableng, karena zaman sekarang sudah zaman edan. Apapun diuangkan". (Baca : OkeZone.com

Apa perbedaan antara perampok dengan korupsi?  Kalau perampok yang dirugikan hanya 1 orang atau 1 keluarga, tapi jika korupsi, yang dirugikan jutaan rakyat. Makanya akan tepat sekali jika pelaku tindak pidana korupsi dijatuhi hukuman mati.  
Hukuman yang sangat ringan membuat maling uang rakyat ini menjadikannya sebagai kesempatan emas untuk menjalankan aksinya guna memperkaya diri sendiri atau kelompoknya. Rencana untuk menerapkan hukuman sosial seperti yang dibicarakan banyak media, tetap akan kurang efektif untuk membuat efek jera bagi pelaku kejahatan korupsi.

Dalam kaitannya dengan hukuman mati bagi koruptor, dosen Hukum Pidana Universitas Indonesia Akhiar Salm, "Angkat Bicara" : "Hukumam mati untuk koruptor dinilai tidak melanggar nilai-nilai Pancasila, baik terkait sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, maupun sila kedua Kemanusian yang Adil dan Beradab. Justeru penerapan hukuman mati terhadap pelaku tindak kejahatan luar biasa tersebut sesuai dengan Pancasila demi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". (Baca : mpr.go.id)



Sedangkan pakar hukum pidana DR Yenti Garnasih "Angkat Bicara" : "pemerintah dan DPR RI harus menerapkan hukuman mati bagi koruptor, narkoba dan kejahatan lainnya yang mengancam dan merugikan masyarakat dan perekonomian negara. Hukuman mati itu positif dan tidak perlu takut dengan tudingan pelanggaran HAM. Sebab, di 50 negara Amerika Serikat saja, hanya 17 negara yang tak menerapkan hukuman mati". (Baca : Pikiran Rakyat Online)

Sedangkan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dalam kaitannya dengan hukuman mati bagi koruptor  "Angkat Bicara" : "Sejak dulu, saya sepakat koruptor dihukum mati. Koruptor itu tak kalah berbahayanya dibanding teroris, atau kejahatan terhadap kelangsungan negara". (Baca : tribuneNews.com)

Jadi jelas sudah bahwa hukuman mati memang pantas bagi koruptor. Yang jadi pertanyaan, mengapa DPR dan Pemerintah takut menerapkan hukuman mati kepada koruptor? Jawabannya adalah :  "Mereka takut senjata makan tuan."

Isu Santet

Aneh-aneh saja, santet akan di masukkan ke dalam pasal KUHP. Kurang kerjaan rupanya anggota DPR kita ini. Kita memang percaya akan adanya santet. Tetapi jika diatur secara hukum, maka akan memunculkan persoalan karena akan membutuhkan legalitas. Persoalan hukum bukan di dasarkan atas fitnah tapi berdasarkan pembuktian secara materil. Memang bisa nanti polisi atau hakim menghadirkan saksi jin atau setan?

Bahayanya, selain santet itu sendiri, adalah fitnahnya. Contohnya Pada bulan Februari, seorang wanita disiksa dan dibakar hidup-hidup karena dituduh santet (baca: Bangka Pos). Kemudian pada bulan Maret, Seorang pria di Jawa Timur, dibantai satu keluarga karena dituduh sebagai dukun santet, padahal dia bukan dukun santet (baca : Indosiar). Dan masih banyak lagi kisah fitnah dari isu santet yang lainnya.

Santet merupakan upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dengan cara gaib menggunakan ilmu hitam. Dalam menjalankan aksinya, dia akan bekerja sama atau bersekutu dengan setan. Ada yang mengatakan bahwa santet adalah suatu proses dematerialisasi. dimana jika santet akan dikirim, seperti paku, jarum, beling atau benda-benda berbahaya lainnya diubah bentuknya dari materi menjadi energi. Untuk merubahnya jelas pelaku santet akan meminta bantuan setan.



Karena pelaku santet bersekutu dengan setan, maka dia adalah  seorang musyrik, sedang perbuatan santetnya masuk dalam dosa syirik. Syirik adalah perbuatan dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah swt dan membuat pelakunya kekal di dalam neraka. Berikut firman Allah swt berkaitan dengan syirik:

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan dengan Dia, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah maka sesungguhnya dia telah tersesat sejauh-jauhnya". (An-Nisaa : 116)

".... Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya syurga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun". (Al-Maaidah : 72)

".... Sesungguhnya  menyekutukan Allah (syirik) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (Luqan : 13)

Daripada memikirkan isu santet untuk dimasukkan ke dalam pasal KUHP, akan lebih produktif lagi jika anggota DPR yang terhormat merancang pasal hukuman mati bagi pelaku permerkosaan dan pelaku pembunuhan. Itu baru mantab....




Pesawan Lion Air mengalami kecelakaan


Pesawat Lion Air Jatuh di Bali

Pesawat Lion Air jenis Boeing 737-800 keberangkatan Bandung tujuan Denpasar dengan nomor penerbangan JT-904 mengalami kecelakaan sebelum mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali pada pukul 15.35 Wita. Pesawat jatuh di pantai sekitar Bandara Ngurah Rai.

Proses evakuasi telah selesai dilakukan dan seluruh penumpang yang berjumlah 108 orang,  terdiri dari 95 orang dewasa, 5 anak, 1 bayi dan 7 orang crew dalam keadaan selamat.



Kasus Malpraktek


Kasus malpraktek bukanlah kasus yang baru di negeri ini. Sudah sering kita dengar kasus kelalaian medik atau biasa disebut dengan malpraktek dari mulai Puskesmas sampai Rumah Sakit besar. Dan penyelesaian kasusnya tidak pernah tuntas, hilang begitu saja tanpa memperhatikan penderitaan yang dialami korban akibat malpraktek Pemerintah seolah tutup mata dengan kasus seperti ini. Mungkin karena yang mengalami kasus malpraktek pada umumnya berasal dari  kalangan menengah kebawah. Dan ironisnya, kebanyakan korban malpraktek menimpa anak-anak yang tidak berdosa seperti yang terjadi pada bocah malang Edwin Timothy, bayi pasangan Gonti Laurel Sihombing dengan Romauli Manurung.

Saya sendiri pernah hampir mengalami kejadian seperti ini. Saat itu isteri saya menderita sakit di bagian rahimnya dan mengeluarkan darah seperti halnya datang bulan. Saya bawa isteri saya ke sebuah rumah sakit berlogo internasional di darah Bekasi. Dokter yang menangani isteri saya mengatakan bahwa isteri saya hamil di luar kandungan dan segera harus dilakukan tindakkan operasi. Isteri saya dilarang pulang ke rumah dan harus dirawat sekarang, katanya khawatir nanti di jalan terjadi apa-apa. Besok akan dilakukan tindakan operasi.

Saya tidak yakin dengan keterangan dokter tersebut. Karena tanpa melakukan pemeriksaan lewat USG, kok dokter sudah yakin kalau isteri saya hamil di luar kandungan. Apalagi terlihat dokter begitu memaksa saya untuk segera dirawat sekarang juga.

Saya berunding dengan isteri saya. "Sebaiknya kita periksa dahulu ke rumah sakit lain, saya kurang yakin dengan perkataan dokter ini", kata isteri saya. Saya hubungi adik saya yang kebetulan bertugas di rumah sakit Cipto Mangun Kusumo. Adik saya menyuruh saya untuk di bawa ke RSCM tempat dia bekerja besok pagi.

Pagi hari kami berangkat ke RSCM. Singkatnya, setelah dilakukan pemeriksaan melalui USG, ternyata isteri saya hanya mengalami keguguran bersih. Artinya, terjadi keguguran tanpa harus dilakukan tindakan medik lainnya. Isteri saya hanya disarankan untuk istirahat saja di rumah.

Bisa dibayangkan jika saya mengikuti anjuran dari dokter di rumah sakit berlogo internasional tersebut apa jadinya? Isteri saya harus dibedah dan dirawat dengan biaya yang tidak sedikit, belum lagi resiko akibat operasi tersebut.



Kini kasus malparktek menimpa seorang bayi mungil tidak berdosa bernama Edwin Timothy yang harus kehilangan separuh jari telunjuknya. Sungguh malang bayi itu, hanya karena keluhan sakit flu saja kenapa harus dilakukan infus? Dan celakanya lagi, pihak rumah sakit menyatakan kalau jari Edwin Timothy putus dengan sendirinya.

Rumah sakit sekarang fungsinya hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya dari pada fungsi sosial sebagai fungsi utamanya. Masyarakat harus kritis terhadap tindakan medik yang akan diambil oleh rumah sakit kepada keluarga kita jika harus terpaksa membawa keluarga kita ke rumah sakit. Teliti dahulu, apakah tindakan medik yang akan diambil tersebut sesuai dengan kondisi sakitnya. Apakah wajar jika keluhannya hanya sakit flu dilakukan infus? Apakah wajar jika tanpa melalui pemeriksaan USG, serorang dokter bisa mengambil keputusan harus dilakukan operasi seperti yang terjadi pada isteri saya?

Semoga Edwin Timothy lekas sembuh dan kejadian seperti ini tidak terus menerus terulang kembali. Pemerintah harus tegas dan jangan pernah mau kompromi dengan pelaku  malpraktek, baik secara perorangan maupun kelembagaan. Ganti direktur rumah sakit yang melakukan malpraktek dan cabut izin praktek dokter yang telah melakukan malpraktek.


Aksi Premanisme


Masyarakat kini sudah sangat resah dengan aksi premanisme. Para preman tidak segan-segan untuk melakukan tindak kekerasan bahkan sampai membunuh. Bagi mereka melakukan tindak kekerasan atau membunuh paling dihukum hanya sebentar, apalagi bila para preman tersebut terorganisir, mereka akan ada yang mengurusnya.

Hukum di negeri ini sangat tidak memenuhi rasa keadilan terhadap masyarakat. Hukuman bagi para pelaku tindak kekerasan, pemerkosaan atau pembunuhan, tidak sebanding dengan kerugian yang diderita korban.

Pelaku tindak pemerkosaan, ancaman hukumannya paling antara 5 tahun sd 20 tahun, sementara korban pemerkosaan akan menderita seumur hidupnya. Angka 5 tahun sd 20 tahun adalah angka yang dapat diatur, tergantung berapa kekuatan uang yang dia miliki untuk mengurusnya dari mulai kepolisian sampai kejaksaan. Hukuman bisa diatur.

Pelaku pembunuhan, ancaman hukumannya hampir sama dengan kasus perkosaan, juga bisa diatur berapa lama dia akan memperoleh hukuman, tergantung dengan siapa dia mengurusnya dan berapa banyak uang yang dia punya. Sementara keluarga korban akan menderita kerugian yang sangat besar, apalagi jika yang dibunuh merupakan tulang punggung keluarga.



Jelas sekali jika hukuman yang diterima tidak sesuai dengan rasa keadilan bagi masyarakat. Dan hukuman tersebut sudah pasti tidak akan menimbulkan efek jera bagi pelaku. Sehingga jangan heran jika kasus perkosaan dan pembunuhan terus menunjukkan angka peningkatan setiap tahunnya.

Cara terbaik untuk menanggulanginya adalah dengan menerapkan hukuman mati bagi para pelaku tindak pidana pembunuhan dan pemerkosaan. Ini adalah hukuman yang dapat memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat. Jika hukuman mati, orang akan berfikir dua kali untuk melakukan tindak pidana pembunuhan dan pemerkosaan. Walaupun masih tetap meninggalkan trauma yang mendalam bagi korban dan keluarga korban.


Ingin belajar Hadits Imam Bukhari? Klik di sini

Bagi Anda yang tidak mempunyai waktu untuk mengelola bisnis forex, Anda bisi minta bantuan kepada ahlinya. Klik di sini.

Anda butuh kliping untuk berita dari tahun 2005 sd tahun 2012? Klik di sini



Pelanggaran Berat Oknum Aparat Kepolisian


Menurut data yang kami kutip dari OkeZone.com, hingga akhir Maret 2013 ini terdapat 17 kasus pelanggaran berat yang dilakukan oleh 21 oknum aparat kepolisian, yaitu :


Narkoba
1.
Jumat 22 Maret 2013, Bripka Raja Adilah yang ditangkap karena terlibat narkoba berhasil melarikan diri saat hendak dibawa tiga petugas BNN.
2.
Jumat 22 Maret 2013, Brigadir K yang berdinas di Mabes Polri ditangkap petugas Polres Jakpus bersama teman wanitanya R (25) warga Bogor di sebuah diskotek di Jakarta Utara. Dari saku kiri Brigadir K disita 150 butir ekstasi dan 560 butir lainnya disita di tempat lain. Ada juga alat timbang digital dan alat hisap sabu alias bong.
3.
Selasa 12 Maret 2013, Bripka R, anggota Polsek Jatinegara, Jaktim ditangkap petugas BNN saat menggunakan narkoba bersama dua temannya di Jatinegara. Tersangka ditangkap dengan barang bukti delapan paket sabu-sabu.
4.
Jumat 18 Januari 2013, Briptu Martua Sagala (27) diamankan tim Reserse Narkoba Polres Nias, Sumut. Polisi juga menyita barang bukti berupa 11,74 gram sabu-sabu, alat hisap sabu dan plastik klip untuk mengemas sabu-sabu. Sebelumnya, Sagala pernah juga ditangkap dalam kasus narkoba dan divonis penjara selama 5,5 bulan oleh Pengadilan Negeri Gunung Sitoli.
Penganiayaan
1.
Jumat 15 Februari 2013, tidak terima dengan penyiksaan yang dilakukan lima polisi, keluarga Galih Yoga Pratama (18) mendatangi Polda Jawa Tengah. Awalnya warga Pondok Raden Patah, Demak ini bersama temannya Sukirman diculik. Di dalam mobil keduanya disuruh mengaku telah melakukan pembunuhan. Mereka juga disiksa karena tidak mau mengaku, padahal keduanya tidak pernah melakukan pembunuhan. Setelah luka-luka keduanya dilepas.
2.
Kamis 7 Februari 2013, Susanto seorang pengamen di Wonogiri, Jateng ditangkap dan disiksa di Polsek Selogiri karena dituduh mencuri burung. Setelah ditahan dua hari, ia dibawa ke Polres Wonogiri dan dilepas karena dinyatakan tidak terbukti. Akibat kondisinya parah teman-temannya membawa ke rumah sakit. Pihak RSUD Wonogiri memaparkan Susanto mengalami patah tulang pada jari kelingking, luka memar di beberapa bagian tubuh serta luka bekas cekikan di leher dan ada luka dalam karena air seninya bercampur darah.
3.
Kamis 11 Januari 2013, Kapolsek Leksono, Wonosobo, AKP Eko Sembodo menganiaya seorang satpam dan tukang parkir di sebuah tempat hiburan malam di Magelang, Jateng. Kasus ini berawal saat AKP Eko dan rekan-rekannya hendak pulang dari sebuah tempat hiburan malam. Di parkiran, mereka bertemu dengan satpam Muhtamin yang kemudian memukulinya. Seorang tukang parkir Muhtasor yang mencoba merelai juga ikut dipukuli. Setelah keduanya babak belur kapolsek dan rombongannya pergi.
 
 Perilaku Menyimpang
1.
27 Februari 2013, perwira Polres Bulukumba, Iptu Briston Napitupulu, ditahan Divisi Propam Polda Sulselbar karena dipergoki berselingkuh dengan istri salah satu anak buahnya. Bripka Rafiuddin memergoki istrinya, Lin Nur Inna bersama Iptu Briston, di dalam kamar rumahnya, di kompleks Aspol Polres Bulukumba pada 27 Februari sore. Begitu tertangkap basah, Briston langsung kabur. Sebab ratusan warga ikut mengepungnya.
2.
Selasa 26 Februari 2013, empat polisi, yakni Iptu CT, Brigadir DN, Bripka TD, Briptu JN, dan Bripka ED disidang Propam Polda Babel di Pangkalpinang. Mereka dianggap salah prosedur dalam penanganan kasus. Saksi yang seharusnya diperiksa dan dilindungi malah dimasukkan ke dalam penjara oleh mereka. Bahkan penangkapan terhadap MD tidak disertai surat penangkapan.
3.
19 Februari 2013, anggota Brimob Bripka E dan temannya S ditahan di Polres Jakarta Timur. Keduanya dituduh melakukan aksi sodomi terhadap Bocah 5 tahun. Akibatnya korban mengalami trauma hebat. Setiap malam korban suka berteriak kesakitan.
4.
Senin 4 Februari 2013, Kapolres Banggai, Sulteng AKBP Yossy Kusomo dicopot dari jabatannya karena memukuli pekerja yang sedang memperbaiki jalan di jembatan Kintom, Minggu 3 Februari 2013. Akibat ulah Kapolres ini warga setempat marah dan memblokir jalanan. Akibatnya terjadi bentrokan antara warga dan polisi. Seorang warga tertembak dan sejumlah orang lainnya luka-luka, termasuk seorang polisi dilarikan ke rumah sakit karena diamuk massa.
5.
Senin  14 Januari 2013, Briptu Ronny Purwoko (27)  anggota  Polsek Sidomukti, Salatiga, Jateng ditangkap karena memvideo dirinya sedang meracik dan mengkonsumsi sabu-sabu. Dalam video berdurasi 4 menit 14 detik yang sudah menyebar ke masyarakat via handphone itu terlihat latar belakang seragam polisi yang tergantung di pintu.
6.
Rabu 2 Januari 2013, Polisi berinisial Ipda TS dilaporkan ke Propam Polresta Denpasar, Bali karena diduga mencabuli bocah kelas 5 SD. Polisi yang sudah pindah tugas ke Yogyakarta ini diduga melakukan aksi pencabulan sebanyak lima kali. Dalam laporannya, korban dicabuli TS pada tahun 2012 saat berdinas di bagian Sat Narkoba Polresta Denpasar. Aksi pencabulan ini dilakukan di rumah korban di kawasan Denpasar.

Kekerasaan
1.
26 Februari 2013, dua anggota Polda Sumbar, Brigadir GB dan Bripda A ditangkap karena terlibat aksi penembakan terhadap bidan Nurmala Dewi Tinambunan di Patumbak, Deli Serdang, Sumut. Peristiwa penembakan ini berawal dari keluhan temannya di Batam, yang menduga suaminya selingkuh dengan Nurmala. Brigadir GB dan Bripda A lalu merencanakan teror dan pembunuhan terhadap Nurmala.
2.
4 Februari 2013, Irma (40) warga Desa Kintom, Banggai, Sulteng terkena tembakan di bagian belakang hingga tembus ke dada. Akibatbya, korban dibawa ke RS Luwuk. Saat itu polisi hendak menjemput Solihin Noho yang akan dibawa ke Polsek Batui. Tiba-tiba polisi mengeluarkan tembakan dan mengenai Irma.
3.
27 Januari 2012, Pratu Heru Oktavianus tewas setelah pinggangnya ditembak Briptu BW. Penembakan bermula saat korban melintas di pos polisi Ogan Dua, Baturaja Timur, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel. Tidak diketahui pasti penyebabnya, tiba-tiba terjadi keributan antara Pratu Heru dengan sekelompok Polantas Polres OKU yang sedang berpatroli. Saat itulah Brigadir BW menembak korban. Merasa kasus ini tak kunjung dituntaskan, 95 teman korban dari Yon Armed Martapura mengamuk dan membakar Polres OKU pada 7 Maret 2013.
4.
Rabu 16 Januari 2013, Andri Tumpak Simambara (18) menjadi korban salah tembak polisi. Siswa SMK Kota Tegal, Jateng ini ditembak kaki kirinya karena diduga polisi sebagai pelaku pencurian dengan dengan modus memecah kaca mobil Ford B 1034 KKT yang diparkir di Jalan S Parman, Tegal.

Menurut sumber dijelaskan bahwa untuk kasus narkoba terhitung ada dua polisi yang menyalahgunakannya. Hal ini, menunjukkan betapa aparat penegak hukum tidak serius dalam pemberantasan narkoba.  Polisi yg sdh terlibat kasus narkoba masih diperbolehkan kembali menjadi polisi dan akhirnya kembali ditangkap karena kasus narkoba.

 


Polisi Razia Preman

Kini Polri sibuk merazia preman, seolah polri ingin memperlihatkan kepada  masyarakat bahwa Polri bersungguh-sungguh ingin menciptakan rasa aman di masyarakat. Hal yang akan sulit sekali dilakukan oleh Polri jika beking membekingi antara sekelompok preman dengan oknum Polri tidak diberantas terlebih dahulu serta kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik tidak terwujud.

Bukan rahasia umum lagi bahwa sekelompok preman, terutama yang terorganisir, bandar narkoba bahkan sampai kepada copet di jalanan dibekingi oknum aparat. Dalam menjalankan praktek haramnya, mereka sering  melakukan koordinasi dengan oknum aparat.


Padahal tidak mudah bagi polri untuk mengetahui siapa oknum-oknum anggotanya yang melakukkan praktek beking seperti itu. Polri kan punya aparat intelijennya. Buat apa aparat intelijen yang gaji serta biaya pendidikannya yang mahal dibiayai dari pajak yang telah kita bayar tidak dapat menunjukkan kinerja sesuai dengan keahliannya?

Berantas terlebih dahulu oknum-oknum yang melakukan praktek beking terhadap preman, bandar narkoba dan aktivitas haram lainnya, sejahterakan masyarakat dengan membuka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi, baru pemberantasan terhadap preman bisa dilakukan sampai tuntas dan berkesinambungan.


Prajurit KOPASUS Ksatria

Pengakuan 11 anggota group II Kopassus Kortosuro sungguh merupakan tindakkan terpuji yang dipenuhi oleh jiwa ksatria. Peristiwa di Lapas Cebongan merupakan tragedi yang merupakan buntut dari tindakan keji dan biadab 4 orang preman yang telah membunuh Alm. Serka Heru Santoso.


Selamat jalan Serka Heru Santoso, semoga Allah swt menerima amal kebaikkan selama hidupmu di dunia, dan keluarga yang engkau tinggalkan diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan berat seperti ini.

Tindakkan 11 prajurit Kopassus atas pembunuhan terhadap 4 orang preman merupakan tindakan membela kehormatan dan jiwa korsa prajurt. Bagaimana kita bisa mengharapkan memiliki pasukan elite yang disegani dunia dan dapat mempertahankan kedaulatan NKRI, jika dalam membela kehormatan korps saja mereka tidak berani bertindak.

Orang bisa bicara seenaknya negara ini negara hukum. Apakah hukum yang berlaku buatan manusia ini sudah memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat? Lihat saja, setiap ada persidangan kasus pembunuhan baik di media cetak maupun elektronik, selalu disertai dengan ketidak puasan keluarga korban yang berujung pada pemukulan terdakwa.



Kenapa tidak gunakan saja hukum islam yang mengharuskan nyawa di bayar nyawa? Kalau bicara soal hak asasi manusia, bagaimana hak asasi isteri dan keluarga alm. Heru Santoso? Apalagi isterinya sekarang sedang hamil, bagaimana nasib anak yang dikandungnya kelak? Hukuman yang dijatuhkan paling berkisar antara 5 - 20 tahun, tergantung berapa banyak uang yang dimiliki para tersangka pembunuhan tsb untuk membayar pengacara, menyuap hakim dan jaksa.

Hai 11 anggota prajurit Kopassus, tindakkanmu adalah benar, kecuali hukum di negeri ini sudah memenuhi rasa keadilan kepada masyarakat, baru tindakkanmu tidak benar.

Semoga kalian tabah menghadapi ini dan masyarakat negeri ini akan merasa kehilangan jika sampai kalian diberhentikan dari tugas pengabdian kalian sebagai prajurit Kopassus.

Adi Bing Slamet vs Eyang Subur


Perseteruan antara Adi Bing Slamet dengan Eyang Subur semakin menjijikkan. Bukan hanya mereka berdua saja yang kini terlibat pertengkaran tidak sehat dengan melibatkan media cetak dan elektronik, namun sudah manjalar ke pihak lainnya.
Kalau Adi Bing Slamet merasa tertipu atau dirugikan, kenapa dia tidak melaporkan hal ini kepada polisi, tanpa harus teriak ke sana ke sini. Di sisi lain, kenapa pihak Eyang Subur yang notabene lebih memahami agama dan jika merasa difitnah tidak melaporkan hal ini juga kepada polisi? Kan sudah jelas aturan hukumnya.
Mereka tidak perlu teriak sana teriak sini tanpa punya rasa malu dan yang lebih celakanya lagi, pertengkaran hebat mereka dimanfaatkan oleh media cetak dan elektronik untuk mencari keuntungan. Padahal perbuatan mereka sudah masuk dalam kategori gibah.


Gibah adalah perbuatan yang mengandung dosa besar dan sangat dimuarkai Allah, sebagaimana firman Allah dan sabda rasulullah sebagai berikut :
Firman Allah :
 "… Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."  (Al- Hujurat : 49)
Sabda Rasulullah :
"Tahukah kalian, apakah ghibah itu?" mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai, maka jika kamu berkata benar, sungguh kamu telah menggunjingnya(ghibah) dan jika kamu tidak berkata benar padanya maka kamu telah berdusta padanya (fitnah). (HR. Muslim)
Rasulullah bersabda “Ketika aku dimi’rajkan oleh Allah, aku melihat suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri, lalu aku bertanya kepada Jibril, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Itu adalah orang yang suka memakan daging saudaranya, dan menodai kehormatannya.” (HR. Abu Dawud)
semoga mereka dapat segera bisa menyelesaikan masalah mereka dengan cara baik. Jangan sampai mereka dikategorikan sebagai pemakan daging manusia.

Tragedi Lapas Cebongan

Saat ini dimana-mana, baik di media cetak maupun elektronik banyak membicarakan masalah kasus Lapas Cebongan yang telah menewaskan 4 orang tahanan (preman). Entah cari muka atau cari populiritas di masyarakat atau entah apa lagi motif lainnya yang tersembunyi dibalik orang-orang yang begitu semangat membela 4 tahanan yang telah tewas di tangan prajurit KOPASUS.



Kita bisa lihat di sini seolah 4 tahanan tsb adalah pahlawan yang dibela mati-matian haknya. Tidakkah terpikir oleh mereka bagaimana perlakuan 4 tahanan yang tewas tsb membantai anggota KOPASUS secara keji dan biadab hingga tewas? Mereka melupakan hak dan perasaan keluarga alm. sersan satu Santoso seperti apa saat ini.

Biaya pendidikan yang mahal dan gaji anggota KOPASUS berasal dari pajak yang kita bayar selama ini. Sia-sia sudah pajak yang kita bayar yang telah digunakan untuk pendidikan dan gaji alm. sertu Santoso direnggut oleh sekumpulan 4 orang preman.



Seharusnya, kalau yang mau di cari adalah keadilan, serahkan keadilan ini kepada hukum islam, yang mengharuskan nyawa dibayar nyawa. Kalau keadilan dicari berdasarkan hukum buatan manusia, tidak akan pernah ada keadilan yang akan kita dapat.